Skip ke Konten

Operating Profit vs EBITDA: Apa Bedanya dalam PSAK 118?

Dua angka yang sering dianggap sama, padahal artinya berbeda. PSAK 118 membuat laba operasi wajib dan tegas — sementara EBITDA tetap menjadi ukuran manajemen yang harus dijelaskan.

Di rapat keuangan, laba operasi dan EBITDA sering dipakai bergantian. Padahal keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. PSAK 118 membuat perbedaan ini makin penting: laba operasi menjadi subtotal wajib dengan definisi ketat, sedangkan EBITDA tetap menjadi ukuran manajemen yang harus dijelaskan bila dipakai di publik.


1. Dua Angka, Dua Pertanyaan

  • Laba operasi menjawab: “Setelah semua beban menjalankan bisnis — termasuk depresiasi — berapa laba dari kegiatan utama?”
  • EBITDA menjawab: “Sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi, berapa laba operasional kas dari bisnis ini?”

Keduanya bukan angka yang “salah” atau “benar”. Yang salah adalah memakainya seolah-olah sama.

2. Laba Operasi dalam PSAK 118

PSAK 118 mewajibkan laba operasi disajikan. Isinya: seluruh penghasilan dan beban yang masuk kategori operasi. Artinya, depresiasi aset operasi, amortisasi, penurunan nilai, dan beban operasi lain sudah diperhitungkan.

Contoh sederhana: sebuah perusahaan punya laba bruto Rp400 juta dan beban operasi Rp150 juta — di mana Rp50 juta di antaranya adalah depresiasi. Maka laba operasinya Rp250 juta.

3. EBITDA: Ukuran Manajemen, Bukan Subtotal PSAK

EBITDA adalah Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization. Dari contoh tadi, EBITDA = Rp250 juta + Rp50 juta = Rp300 juta.

EBITDA berguna untuk melihat kinerja operasional sebelum efek struktur pendanaan, pajak, dan beban non-kas. Tetapi ia bukan subtotal yang diwajibkan PSAK.

AspekLaba OperasiEBITDA
Depresiasi & amortisasiDihitungDikeluarkan
BungaTidak masuk (kategori pendanaan)Dikeluarkan
PajakTidak masuk (kategori pajak)Dikeluarkan
Penurunan nilaiMasuk bila operasiSering dikeluarkan
Status PSAK 118Subtotal wajibUkuran manajemen (bila dipakai publik)
Perhitungan laba operasi dan EBITDA

4. Contoh Angka

PosRp juta
Pendapatan1.000
Beban pokok pendapatan(600)
Laba bruto400
Beban operasi (termasuk depresiasi 50)(150)
Laba operasi250
Depresiasi50
EBITDA300
Beban bunga(30)
Beban pajak(55)
Laba bersih165

Perhatikan: EBITDA lebih tinggi Rp50 juta dari laba operasi, tepat sebesar depresiasi. Tidak ada yang salah — keduanya hanya mengukur hal yang berbeda.

5. Kapan EBITDA Menjadi UKTM?

Di sini banyak yang salah paham. PSAK 118 mengecualikan beberapa subtotal dari definisi Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen (UKTM), antara lain:

  • laba bruto;
  • laba operasi sebelum depresiasi, amortisasi, dan penurunan nilai (yaitu EBITDA standar);
  • laba operasi ditambah bagian laba investasi metode ekuitas;
  • laba sebelum pajak; dan
  • laba dari operasi yang dilanjutkan.

Artinya, EBITDA standar bukan UKTM. Tetapi begitu Anda menambahkan penyesuaian lain — misalnya Adjusted EBITDA yang mengeluarkan biaya restrukturisasi, selisih kurs belum terealisasi, atau keuntungan pelepasan aset — ukuran itu menjadi UKTM dan wajib diungkapkan serta direkonsiliasi.

EBITDA boleh dipakai. Yang tidak boleh: menampilkannya seolah-olah ia subtotal resmi PSAK, atau memakai versi “disesuaikan” tanpa menjelaskan cara hitungnya.

6. Menyiapkannya di Odoo

  1. Laba operasi — pastikan laporan laba rugi Odoo sudah memisahkan kategori operasi dan menghitung subtotalnya. Jangan hanya mengandalkan baris “Operating Income” bawaan tanpa memeriksa isinya.
  2. EBITDA — tidak tersedia sebagai laporan standar. Hitung dari laba operasi ditambah depresiasi dan amortisasi. Perhatikan depresiasi yang “tersembunyi” di harga pokok penjualan, bukan hanya di akun beban depresiasi.
  3. Rekonsiliasi — bila memakai Adjusted EBITDA, siapkan tabel rekonsiliasi ke laba operasi (subtotal PSAK terdekat) di spreadsheet atau laporan khusus.
  4. Uji konsistensi — pastikan angka EBITDA di laporan internal sama dengan yang dipakai di presentasi investor atau siaran pers.

7. Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Menyebut EBITDA sebagai “laba operasi” di laporan resmi.
  • Menambahkan kembali penurunan nilai piutang usaha — padahal itu bagian dari operasi.
  • Lupa memasukkan depresiasi yang ada di harga pokok penjualan.
  • Menampilkan Adjusted EBITDA tanpa rekonsiliasi dan tanpa menjelaskan alasannya.
  • Membandingkan EBITDA antarperusahaan tanpa memeriksa definisi masing-masing.

Penutup

Laba operasi dan EBITDA sama-sama berguna. Bedanya: laba operasi adalah angka resmi PSAK 118, sedangkan EBITDA adalah alat manajemen. Selama perbedaan itu dipahami — dan dijelaskan — keduanya bisa hidup berdampingan tanpa membingungkan pembaca laporan.

Ingin memastikan laporan Odoo Anda siap PSAK 118? Diskusikan dengan Tim Sinergi Data Totalindo (SDT).


Catatan: materi ini mengacu pada teks resmi PSAK 118 dan ilustrasinya. Angka pada contoh adalah ilustrasi. Keputusan klasifikasi dan pengungkapan tetap memerlukan pertimbangan akuntansi serta peninjauan praktisi/auditor. Ditulis oleh Sinergi Data Totalindo, PT.

Sinergi Data Totalindo 26 Oktober 2026
Share post ini
Arsip
PSAK 118 dan Odoo Accounting: Bukan Sekadar Mengubah Format Laporan Keuangan
PSAK 118 berlaku efektif 1 Januari 2027 dan mengubah cara laba rugi disusun. Apa yang berubah, dan sejauh mana Odoo bisa membantu?
Chat WhatsApp